Tampilkan postingan dengan label naik gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label naik gunung. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Februari 2016

Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat. Sangat tinggi mdpl.

Bro, ikut ke Papandayan nggak? Celetuk rekan kerja di meja sebelah. Dan langsung saya tolak deh secara halus, sehalus sutra.

April 2015 udah setahun aja, oh iya blog nya udah jamuran gini kok pengunjungnya masih banyak aja ya?. Pasti pada iseng BW dan kangen tulisan saya yang ngalor ngidul tanpa pakem ya?. Untuk mengobati kekecewaan rekan rekan senasib, okelah saya update isi blognya spesial buat kalian semua. Biar pageviewnya pindah ke postingan terbaru. Muaaachhh..

Hampir setahun sudah berlalu, dari rambut gondrong sampai udah potong dua kali, sekarang sudah mulai gondrong lagi. Tepatnya bulan April tahun 2015, Saya ikutan gerombolan anak Saipem menaklukan gunung tertinggi di negara Garut. Sangking tingginya, gunung ini dilengkapi dengan kamera Go Pro di segala penjuru. Para pendakinya memerlukan alat canggih berwujud tongkat sakti untuk membantu perjalanan mereka menuju Puncak.
gunung papandayan garut
Unyil kucing unyil kucing, rambutku keren ya kalau dari belakang
Sebelum memulai pendakian, kita harus melakukan ritual wajib yang harus dilakukan seorang pendaki. Setelah melakukan hompimpah akhirnya didapat urutan siapa yang di depan dan siapa yang dibelakang. Saya akhirnya mendapat posisi paling belakang, itung-itung kalau kentut sewaktu-waktu biar nggak nyiksa pendaki yang lain.

Kondisi alam di Papandayan sekarang sangat berbeda dengan kondisi terakhir saya kesini, kalau yang setia Blog Walking disini pasti tahu kan gimana ceritanya. Kalau belum pernah baca, silahkan baca dulu kondisi alam Papandayan yang asri beberapa tahun yang lalu. Walaupun terjadi banyak perubahan, tetapi masih banyak saya temukan kelakuan Vandalisme di Gunung ini. Saya pribadi kurang paham tujuan mereka menuliskan nama di batu, kayu, dan tanah. Menyusun batu biar berbentuk bintang, dan tulisan JUMIATI LOVE PAIJO. Mungkin mereka belum mengenal telepon, email, ataupun Wasap. Atau sebenarnya mereka cuman pengen eskis dan dapat pengakuan???

gunung papandayan garut
Kelakuan Anak jaman sekarang, mirip-mirip manusia Purba yang tinggalnya di Goa Mlangreng
Sangking tinggi dan beratnya medan, kami menghabiskan kurang lebih setengah jam untuk mendaki Gunung ini, itupun kami harus membagi waktu pendakian untuk mengambil foto bersama, agar bisa dipastikan kondisi para pendaki sehat dan bugar untuk next photo session.

Sebelum sampai pos terakhir buat ngecamp, kira-kira 10 menit 18 detik terjadilah hujan yang sangat lebat. Beberapa pendaki cewek mengeluarkan payung pink dan kuningnya, tak lupa Go Pro harus siap siaga. Sangatlah penting untuk merekam setiap mili detik moment moment di Papandayan, hal ini bertujuan agar kondisi para pendaki terpantau secara jelas. Tangan kiri pegang payung pink, tangan kanan pegang tongkat sakti. Tak lupa muter-muter maju mundur cantik.

gunung papandayan garut
Engineer lagi pada meeting, ada Piping, Structure, Naval, LOSPE, Material, muka muka calon petinggi ini.
Enaknya naik gunung sama cewek itu,.. Jaminan makan enak malem dan pagi harinya. Dari rendang, Pasta, Kacang Ijo, Bubur, Sayur, Agar-agar, telor, komplit. Minumnya juga komplit, dari A sampai Z semua ada. Nggak enaknya, ada kemungkinan kalau naik sama cewek itu rempong, suka ngeluh, nggak kuat, kadang mintak gendong. Tetapi pendakian kali ini, cewek-ceweknya tangguh semua, jadi amanlah. Pinter masak pulak, Jozz gandoz lah kalian cyin...

Biasanya kalau abis makan malam dan sebelum tidur, kita ngobrol saling mengenal satu sama lain biar tambah akrab. Kalau malam ini ada yang baru dan agak berbeda, ada yang cerita horror, tebak tebakan, ada yang maen kartu, makan salak, ada juga yang sambil minum hangat-hangat semriwing. Abis ntu baru bubug, biar besok bisa ikutan photo session.

gunung papandayan garut
Foto model jalan paling depan, di susul penata rias, photographer dan yang terakhir tukang angkat-angkat
Bagusnya papandayan ntu ada kawasan yang masih asri, isinya edelweiss masih cantik dan rapi. Sampah sangat jarang di temukan di lokasi ini, the best spot lah di Papandayan. Kalau mau photo photo maju mundur cantik bisa dan sangat oke dilakukan disini. Terbesit pikiran Prewed disini kayake bagus deh, masih jaman aa prewed di gunung? Sekarang jamannya prewed di Zebra Cross atau nggak prewed di Jaya Wijaya biar greget.

gunung papandayan garut
Tongkat Ajaib selalu siap siaga di setiap detiknya, Bunganya bagus btw.
gunung papandayan garut
Dulu, cuman ada 2 tenda berdiri dipojokan
Yang sangat disayangkan dan disesalkan, setiap manusia ada benih ke egoisan di hatinya. Yang akan muncul ketika di atas, entah di gunung atau kedudukan di masyarakat. Papandayan seakan menjadi tempat sampah, berbondong bondong pendaki mengatasnamakan Pecinta Alam melukai setiap kulit Papandayan. Mewarnai tanahnya, mengotori indahnya, menginjak ke asrian Papandayan. Memenuhi dan mengantri, seakan ini sebuah Wahana bermain baru, Wahana pendukung ke eksisan di Media Sosial.

Sebenarnya aturannya sangat mudah,
Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar, membunuh sesuatu kecuali waktu, dan meninggalkan sesuatu kecuali jejak.

Bukan sekedar tulisan yang di share di Medsos, bukan sekedar kertas yang bertulisankan pesan sepele “dapat salam dari bla bla bla mdpl” untuk orang terkasih. Tak akan memberatkanmu sampah kertas, bungkus mie, permen, botol minuman, ataupun tali raffia,tinggal masukin tas, atau di tenteng turun juga bisa. Kalau pendaki Papandayan memiliki mental seperti pendaki sekarang-sekarang ini, bisa dipastikan dua tahun lagi adalah 730 hari dari sekarang.

gunung papandayan garut
Dulu juga, bau belerang sangat menyengat, sekarang cuman bau kentut yang tercium
Jangan lupa baca lagi tulisan alay nan jadul Papandayannya disini.
Sorry ceritanya basi, Lebih baik telat dari pada telat banget.

Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat. Sangat tinggi mdpl.

Bro, ikut ke Papandayan nggak? Celetuk rekan kerja di meja sebelah. Dan langsung saya tolak deh secara halus, sehalus sutra.

April 2015 udah setahun aja, oh iya blog nya udah jamuran gini kok pengunjungnya masih banyak aja ya?. Pasti pada iseng BW dan kangen tulisan saya yang ngalor ngidul tanpa pakem ya?. Untuk mengobati kekecewaan rekan rekan senasib, okelah saya update isi blognya spesial buat kalian semua. Biar pageviewnya pindah ke postingan terbaru. Muaaachhh..

Hampir setahun sudah berlalu, dari rambut gondrong sampai udah potong dua kali, sekarang sudah mulai gondrong lagi. Tepatnya bulan April tahun 2015, Saya ikutan gerombolan anak Saipem menaklukan gunung tertinggi di negara Garut. Sangking tingginya, gunung ini dilengkapi dengan kamera Go Pro di segala penjuru. Para pendakinya memerlukan alat canggih berwujud tongkat sakti untuk membantu perjalanan mereka menuju Puncak.
gunung papandayan garut
Unyil kucing unyil kucing, rambutku keren ya kalau dari belakang
Sebelum memulai pendakian, kita harus melakukan ritual wajib yang harus dilakukan seorang pendaki. Setelah melakukan hompimpah akhirnya didapat urutan siapa yang di depan dan siapa yang dibelakang. Saya akhirnya mendapat posisi paling belakang, itung-itung kalau kentut sewaktu-waktu biar nggak nyiksa pendaki yang lain.

Kondisi alam di Papandayan sekarang sangat berbeda dengan kondisi terakhir saya kesini, kalau yang setia Blog Walking disini pasti tahu kan gimana ceritanya. Kalau belum pernah baca, silahkan baca dulu kondisi alam Papandayan yang asri beberapa tahun yang lalu. Walaupun terjadi banyak perubahan, tetapi masih banyak saya temukan kelakuan Vandalisme di Gunung ini. Saya pribadi kurang paham tujuan mereka menuliskan nama di batu, kayu, dan tanah. Menyusun batu biar berbentuk bintang, dan tulisan JUMIATI LOVE PAIJO. Mungkin mereka belum mengenal telepon, email, ataupun Wasap. Atau sebenarnya mereka cuman pengen eskis dan dapat pengakuan???

gunung papandayan garut
Kelakuan Anak jaman sekarang, mirip-mirip manusia Purba yang tinggalnya di Goa Mlangreng
Sangking tinggi dan beratnya medan, kami menghabiskan kurang lebih setengah jam untuk mendaki Gunung ini, itupun kami harus membagi waktu pendakian untuk mengambil foto bersama, agar bisa dipastikan kondisi para pendaki sehat dan bugar untuk next photo session.

Sebelum sampai pos terakhir buat ngecamp, kira-kira 10 menit 18 detik terjadilah hujan yang sangat lebat. Beberapa pendaki cewek mengeluarkan payung pink dan kuningnya, tak lupa Go Pro harus siap siaga. Sangatlah penting untuk merekam setiap mili detik moment moment di Papandayan, hal ini bertujuan agar kondisi para pendaki terpantau secara jelas. Tangan kiri pegang payung pink, tangan kanan pegang tongkat sakti. Tak lupa muter-muter maju mundur cantik.

gunung papandayan garut
Engineer lagi pada meeting, ada Piping, Structure, Naval, LOSPE, Material, muka muka calon petinggi ini.
Enaknya naik gunung sama cewek itu,.. Jaminan makan enak malem dan pagi harinya. Dari rendang, Pasta, Kacang Ijo, Bubur, Sayur, Agar-agar, telor, komplit. Minumnya juga komplit, dari A sampai Z semua ada. Nggak enaknya, ada kemungkinan kalau naik sama cewek itu rempong, suka ngeluh, nggak kuat, kadang mintak gendong. Tetapi pendakian kali ini, cewek-ceweknya tangguh semua, jadi amanlah. Pinter masak pulak, Jozz gandoz lah kalian cyin...

Biasanya kalau abis makan malam dan sebelum tidur, kita ngobrol saling mengenal satu sama lain biar tambah akrab. Kalau malam ini ada yang baru dan agak berbeda, ada yang cerita horror, tebak tebakan, ada yang maen kartu, makan salak, ada juga yang sambil minum hangat-hangat semriwing. Abis ntu baru bubug, biar besok bisa ikutan photo session.

gunung papandayan garut
Foto model jalan paling depan, di susul penata rias, photographer dan yang terakhir tukang angkat-angkat
Bagusnya papandayan ntu ada kawasan yang masih asri, isinya edelweiss masih cantik dan rapi. Sampah sangat jarang di temukan di lokasi ini, the best spot lah di Papandayan. Kalau mau photo photo maju mundur cantik bisa dan sangat oke dilakukan disini. Terbesit pikiran Prewed disini kayake bagus deh, masih jaman aa prewed di gunung? Sekarang jamannya prewed di Zebra Cross atau nggak prewed di Jaya Wijaya biar greget.

gunung papandayan garut
Tongkat Ajaib selalu siap siaga di setiap detiknya, Bunganya bagus btw.
gunung papandayan garut
Dulu, cuman ada 2 tenda berdiri dipojokan
Yang sangat disayangkan dan disesalkan, setiap manusia ada benih ke egoisan di hatinya. Yang akan muncul ketika di atas, entah di gunung atau kedudukan di masyarakat. Papandayan seakan menjadi tempat sampah, berbondong bondong pendaki mengatasnamakan Pecinta Alam melukai setiap kulit Papandayan. Mewarnai tanahnya, mengotori indahnya, menginjak ke asrian Papandayan. Memenuhi dan mengantri, seakan ini sebuah Wahana bermain baru, Wahana pendukung ke eksisan di Media Sosial.

Sebenarnya aturannya sangat mudah,
Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar, membunuh sesuatu kecuali waktu, dan meninggalkan sesuatu kecuali jejak.

Bukan sekedar tulisan yang di share di Medsos, bukan sekedar kertas yang bertulisankan pesan sepele “dapat salam dari bla bla bla mdpl” untuk orang terkasih. Tak akan memberatkanmu sampah kertas, bungkus mie, permen, botol minuman, ataupun tali raffia,tinggal masukin tas, atau di tenteng turun juga bisa. Kalau pendaki Papandayan memiliki mental seperti pendaki sekarang-sekarang ini, bisa dipastikan dua tahun lagi adalah 730 hari dari sekarang.

gunung papandayan garut
Dulu juga, bau belerang sangat menyengat, sekarang cuman bau kentut yang tercium
Jangan lupa baca lagi tulisan alay nan jadul Papandayannya disini.
Sorry ceritanya basi, Lebih baik telat dari pada telat banget.

Jumat, 23 Januari 2015

Sudah 2 bulan saya berada di Jakarta, menikmati asap koantas, bajaj dan kopaja tentunya. Di iringi gema merdu klakson mobil-mobil mewah yang egois, dan kendaraan roda dua yang seperti bebas melahap trotoar. Bangunan bagunan yang entah kenapa masih aja belum selesai pembangunannya sampai sekarang, padahal setahun yang lalu ya bentuknya kayak gini. Sudahlah, mungkin para pekerja mulai lelah.

Masuk kantor jam 8 pagi, pulang jam 5 sore, begitulah kegiatan rutin saya dari Senin sampai Jumat, selama seminggu, sebulan dan sampai beberapa bulan kedepan. Penat pastinya terlintas di benak ini, untung saja lagu-lagu lama sudah saya siapkan secara rapi untuk menemani dikala malam. Film-film dari dia yang tak boleh disebut namanya juga sudah saya siapkan untuk mengobati rasa kangen. Mungkin kali ini akan menjadi waktu yang terasa sangat panjang di Jakarta.

Berbeda dengan kantor yang dulu, sekarang saya ditempatkan di salah satu gedung di daerah Citos, Gedung Alamanda namanya, di sebelah kirinya Talavera pas, dan di dekat gedung Elnusa. Kantornya tinggi, bersih, bebas rokok, dan yang jelas saya pilih tempat duduk dekat dengan jendela, biar bisa lihat-lihat keluar kalau lagi pusing. Tapi sayangnya lemburan agak susah prosedurnya, sehingga ya sabtu minggu saya tidak ada kerjaan di kos. Jadi memang benar, sangat panjang rasanya kali ini saya di Jakarta.

"Siapa yang ada rencana gedhe pangrango bulan ini?????" Iseng saya tulis di wall pesbuk sebelum menginjak akhir tahun 2014. Status yang geje tersebut ternyata ada yang merespon. Ada beberapa monyet kepancing, dan akhirnya kita deal naik gunung. Rasanya begimana gitu deh, baru 2 minggu di Jakarta bisa naik gunung, aaaaaaaaa. Memang saya sudah agak penat, pengen yang namanya ngirup udara segar di gunung. Kebetulan gunung yang terdekat di Jakarta ya Gede dan Pangrango. Akhirnya saya ikut saja sama Kaka Terry dkk, nimbrung aja, sekalian nambah teman di gunung. Dan beginilah ceritanya, walaupun kejadiannya 20 Desember tahun 2014, tapi nggak apalah itung-itung biar keliatan kayak Blogger aktip gitu deh.

Perjalanan dimulai dari kos dengan bismillah. Yang planning sebelumnya lewat Bogor naik kereta, akhirnya berubah rencana naik bus langsung ke Cibodas. Marita namanya, sebuah bus yang terdengar elok di pikiran saya. Membayangkan sebuah bus besar, dengan kursi empuknya dan dingin AC nya. Sepertinya menapuk hati saya yang telah menunggu hampir 4 jam di kampung rambutan. Perjalanan yang diramalkan hanya 2 jam molor menjadi 4 jam, ditambah lagi penumpang yang berjubel memaksa saya untuk mengalah dan berdiri.

Sekitar ba'da isya saya sampai di pertigaan cibodas, ingat ya "pertigaan cibodas". Jadi nanti kalau diturunin sopirnya nggak di pertigaan mendingan tanya orang, dan minimal tanyanya 3 orang ya. Soalnya kemarin saya ketipu sama orang yang sok teu jalan dan menjerumuskan, pokoknya 2 orang yang sok teu itu asu banget deh. Sampai di pertigaan nanti bisa naik angkot ke basecamp, oh iya kalau mau ngurus ijin, mendingan datangnya agak siangan biar nggak tutup kantornya. Kalau kemarin saya udah di urusin sama kaka Andi, jadi ya tinggal pancal ke atas aja. yuuukkkkkk... makasih kaka kaka semua.. Sebagai info saja, kalau mau naik Gede and Pangrango musti ijin online 3 minggu sebelumnya, ribet kan????

Start mulai pendakian sekitar jam 22.30 an, target sampai pos terakhir "Kandang Badak" sekitar jam "tidak tahu". Pendakian kali ini saya tidak target-targetan, yang penting naik gunung, puncak nggak terlalu ngarepin. Tetapi tetep planing sebelum subuh harus ngediriin dome buat bermalam, besoknya muncak, malamnya sampai Jakarta, paginya kerja rodi lagi. Planing yang gak jelas banget.

Yang asik di Gede-Pangrango itu perjalanan menuju puncaknya, ada air terjun, air panas, kanan kiri pohon-pohon rindang yang terawat, hijau selayaknya pohon pada umumnya, masih alami dan segar. Tapi sayang jalurnya sudah nggak alami, batu-batu besar sudah tersusun rapi mempermudah jalannya para pendaki. Berbeda dengan Gunung Lawu yang jelas berbentuk anak tangga, kalau Gede-Pangrango ini batu-batu yang disusun dan dibuat alami tetapi nggak alami. Efeknya nanti pas turun, kalau nggak tumit, kempol atau pahanya kena deh.

Dan……
Puncak Gede.
Cepet banget kan ceritanya, cuman satu paragraf sudah kelar aja.

puncak gede
Puncaknya biasa aja, tapi otw nya yang menyenangkan.
Gede Pangrango, sebuah gunung di Indonesia yang terkenal sangat amat ribet dalam perijinannya. Sepertinya berhasil membuat saya jatuh cinta, mencumbu embunnya, menghirup nafasnya, melewati paru-paru dan seakan membersihkannya. Suatu saat Saya akan menyapa mu lagi Gede, tapi dari puncak Pangrango, agar kau cemburu dengannya.

Terima kasih buat mbak-mbak eks Mahafisipa (Mapala fak. fisip UNS) Tery-mbil dan Binti maemunah yang strong abizzz.

Terima kasih buat temen temen Republika yang kece abis, Mas Andi, mbak frau yang lupa namanya, Indri, dan Desy, kalian semua wartawan yang luar biasa joss kawan.

Buat 2 orang yang sampai di puncak dengan keteguhan, selamat datang di kawasan orang-orang gagah ya..

Setiap lekukan rongga nafas membutuhkan sentilan sentilan embun segar. Sedikit bumbu tekanan, tantangan, keterbatasan serta ke egoisan. Buaian kebosanan harus disiramkan perlahan, hingga nantinya kalian akan merasakan apa arti sebuah kenikmatan.

Foto-fotonya dibawah ya....

kandang badak pangrango
Serius itu perutnya cuman tipuan kamera semata

jalur puncak gede
Jalur menuju puncak sudah ada gocekan nya tapi nggak ada abang ojek nya.

kandang badak gede pangrango
Nah kalau mau muncak ke Pangrango tinggal belok kanan, kalau mau ke gede lurus, kalau mau mie ayam balik lagi aja ke kandang badak.
Kasus di tutup.
Tidur dolo, sambil dengerin "Siapa suruh datang jakarta, siapa suruh datang jakarta" dari steven,
Oh iya, sampai Jumpa besok di Kuningan blogie blogie yang kece abies.
Sorry banyak typo nih,
thanks.


Sudah 2 bulan saya berada di Jakarta, menikmati asap koantas, bajaj dan kopaja tentunya. Di iringi gema merdu klakson mobil-mobil mewah yang egois, dan kendaraan roda dua yang seperti bebas melahap trotoar. Bangunan bagunan yang entah kenapa masih aja belum selesai pembangunannya sampai sekarang, padahal setahun yang lalu ya bentuknya kayak gini. Sudahlah, mungkin para pekerja mulai lelah.

Masuk kantor jam 8 pagi, pulang jam 5 sore, begitulah kegiatan rutin saya dari Senin sampai Jumat, selama seminggu, sebulan dan sampai beberapa bulan kedepan. Penat pastinya terlintas di benak ini, untung saja lagu-lagu lama sudah saya siapkan secara rapi untuk menemani dikala malam. Film-film dari dia yang tak boleh disebut namanya juga sudah saya siapkan untuk mengobati rasa kangen. Mungkin kali ini akan menjadi waktu yang terasa sangat panjang di Jakarta.

Berbeda dengan kantor yang dulu, sekarang saya ditempatkan di salah satu gedung di daerah Citos, Gedung Alamanda namanya, di sebelah kirinya Talavera pas, dan di dekat gedung Elnusa. Kantornya tinggi, bersih, bebas rokok, dan yang jelas saya pilih tempat duduk dekat dengan jendela, biar bisa lihat-lihat keluar kalau lagi pusing. Tapi sayangnya lemburan agak susah prosedurnya, sehingga ya sabtu minggu saya tidak ada kerjaan di kos. Jadi memang benar, sangat panjang rasanya kali ini saya di Jakarta.

"Siapa yang ada rencana gedhe pangrango bulan ini?????" Iseng saya tulis di wall pesbuk sebelum menginjak akhir tahun 2014. Status yang geje tersebut ternyata ada yang merespon. Ada beberapa monyet kepancing, dan akhirnya kita deal naik gunung. Rasanya begimana gitu deh, baru 2 minggu di Jakarta bisa naik gunung, aaaaaaaaa. Memang saya sudah agak penat, pengen yang namanya ngirup udara segar di gunung. Kebetulan gunung yang terdekat di Jakarta ya Gede dan Pangrango. Akhirnya saya ikut saja sama Kaka Terry dkk, nimbrung aja, sekalian nambah teman di gunung. Dan beginilah ceritanya, walaupun kejadiannya 20 Desember tahun 2014, tapi nggak apalah itung-itung biar keliatan kayak Blogger aktip gitu deh.

Perjalanan dimulai dari kos dengan bismillah. Yang planning sebelumnya lewat Bogor naik kereta, akhirnya berubah rencana naik bus langsung ke Cibodas. Marita namanya, sebuah bus yang terdengar elok di pikiran saya. Membayangkan sebuah bus besar, dengan kursi empuknya dan dingin AC nya. Sepertinya menapuk hati saya yang telah menunggu hampir 4 jam di kampung rambutan. Perjalanan yang diramalkan hanya 2 jam molor menjadi 4 jam, ditambah lagi penumpang yang berjubel memaksa saya untuk mengalah dan berdiri.

Sekitar ba'da isya saya sampai di pertigaan cibodas, ingat ya "pertigaan cibodas". Jadi nanti kalau diturunin sopirnya nggak di pertigaan mendingan tanya orang, dan minimal tanyanya 3 orang ya. Soalnya kemarin saya ketipu sama orang yang sok teu jalan dan menjerumuskan, pokoknya 2 orang yang sok teu itu asu banget deh. Sampai di pertigaan nanti bisa naik angkot ke basecamp, oh iya kalau mau ngurus ijin, mendingan datangnya agak siangan biar nggak tutup kantornya. Kalau kemarin saya udah di urusin sama kaka Andi, jadi ya tinggal pancal ke atas aja. yuuukkkkkk... makasih kaka kaka semua.. Sebagai info saja, kalau mau naik Gede and Pangrango musti ijin online 3 minggu sebelumnya, ribet kan????

Start mulai pendakian sekitar jam 22.30 an, target sampai pos terakhir "Kandang Badak" sekitar jam "tidak tahu". Pendakian kali ini saya tidak target-targetan, yang penting naik gunung, puncak nggak terlalu ngarepin. Tetapi tetep planing sebelum subuh harus ngediriin dome buat bermalam, besoknya muncak, malamnya sampai Jakarta, paginya kerja rodi lagi. Planing yang gak jelas banget.

Yang asik di Gede-Pangrango itu perjalanan menuju puncaknya, ada air terjun, air panas, kanan kiri pohon-pohon rindang yang terawat, hijau selayaknya pohon pada umumnya, masih alami dan segar. Tapi sayang jalurnya sudah nggak alami, batu-batu besar sudah tersusun rapi mempermudah jalannya para pendaki. Berbeda dengan Gunung Lawu yang jelas berbentuk anak tangga, kalau Gede-Pangrango ini batu-batu yang disusun dan dibuat alami tetapi nggak alami. Efeknya nanti pas turun, kalau nggak tumit, kempol atau pahanya kena deh.

Dan……
Puncak Gede.
Cepet banget kan ceritanya, cuman satu paragraf sudah kelar aja.

puncak gede
Puncaknya biasa aja, tapi otw nya yang menyenangkan.
Gede Pangrango, sebuah gunung di Indonesia yang terkenal sangat amat ribet dalam perijinannya. Sepertinya berhasil membuat saya jatuh cinta, mencumbu embunnya, menghirup nafasnya, melewati paru-paru dan seakan membersihkannya. Suatu saat Saya akan menyapa mu lagi Gede, tapi dari puncak Pangrango, agar kau cemburu dengannya.

Terima kasih buat mbak-mbak eks Mahafisipa (Mapala fak. fisip UNS) Tery-mbil dan Binti maemunah yang strong abizzz.

Terima kasih buat temen temen Republika yang kece abis, Mas Andi, mbak frau yang lupa namanya, Indri, dan Desy, kalian semua wartawan yang luar biasa joss kawan.

Buat 2 orang yang sampai di puncak dengan keteguhan, selamat datang di kawasan orang-orang gagah ya..

Setiap lekukan rongga nafas membutuhkan sentilan sentilan embun segar. Sedikit bumbu tekanan, tantangan, keterbatasan serta ke egoisan. Buaian kebosanan harus disiramkan perlahan, hingga nantinya kalian akan merasakan apa arti sebuah kenikmatan.

Foto-fotonya dibawah ya....

kandang badak pangrango
Serius itu perutnya cuman tipuan kamera semata

jalur puncak gede
Jalur menuju puncak sudah ada gocekan nya tapi nggak ada abang ojek nya.

kandang badak gede pangrango
Nah kalau mau muncak ke Pangrango tinggal belok kanan, kalau mau ke gede lurus, kalau mau mie ayam balik lagi aja ke kandang badak.
Kasus di tutup.
Tidur dolo, sambil dengerin "Siapa suruh datang jakarta, siapa suruh datang jakarta" dari steven,
Oh iya, sampai Jumpa besok di Kuningan blogie blogie yang kece abies.
Sorry banyak typo nih,
thanks.


Sabtu, 30 Januari 2010

Mapala sering diartikan Mahasiswa Pecinta Alam, ataukah Mahasiswa Penikmat Alam?
Ataukah “Mahasiswa Paling Lama” ( mundur lulusnya ), atau kalau dosenku sering bilang “Mahasiswa Paling Langka”. Terserah mereka mau berpendapat apa mengenai mapala, yang penting penulis cuman ingin memperjelas yang namanya “Mapala” di mata penulis sendiri.

Dari “kamus pengalaman” penulis, dikatakan bahwa mapala merupakan suatu organisasi yang bertujuan melestarikan alam sekitar dan anggotanya adalah seorang mahasiswa. Tetapi ada juga yang bukan mahasiswa sich, kita sering sebut dengan nama “sispala” bedanya hanya terletak pada angggota nya yaitu seorang siswa sma atau sederajat. Selain itu ada juga istilah “freeland”, kalau yang ini bukan siswa atau mahasiswa tetapi sudah bekerja atau lulus kuliah,dan tidak terikat oleh aturan organisasi. Sebenarnya kalau dipandang dari sudut tujuan organisasi tersebut, mereka semua sama. Yang membedakan hanya pandangan pikiran yang di miliki masing masing anggota, dalam hal ini di titik beratkan pada masalah “umur” para anggotanya.

Berhubung penulis bukan sispala atau freeland, lebih baik kita membicarakan masalah mapala saja.
Berdasarkan survey yang penulis lakukan walaupun belum akurat 100%, orang awam memandang mapala merupakan kumpulan orang orang yang hobynya naek gunung. Ada yang bilang mapala merupakan “anak hutan” dikarenakan sering berbaur dengan yang namanya “hutan”. Memang betul, mapala sering bergaul dengan “hutan” (kalu lebih enak kita pakai kata “alam” saja) tetapi bukan berarti aktivitas mapala cuma di alam saja.


Mapala merupakan bhineka Tunggal Ika, mereka dari golongan berbeda beda. kaya, miskin, pintar, bodoh, pria, wanita, tampan, cantik, jelek, pas2 an (aku banget), anak konglomerat, pengusaha, pedagang, petani, semua ada. Kalau penulis bahas ndak selesai nanti, yang jelas dari Sabang sampai Merauke semua ada. Mereka semua keluarga, walau bukan dari Bapak atau Ibu sekandung, orang tua mereka adalah alam ini. Mapala memiliki ikatan yang kuat antar anggotanya, tua, muda saling menghormati. Mereka memiliki keanggotaan “seumur hidup” yang berarti bahwa selama dia masih hidup, maka dia masih menjadi anggota organisasinya tersebut. Kecuali mengundurkan diri atau keluar atas pertimbangan-pertimbangan tertentu.
Kesan mapala sekarang menurun, orang tua jaman sekarang menganggap bahwa mapala merupakan kumpulan orang orang malas, yang paling lama lulusnya atau sering disebut “macan kampus” (kayak lagunya PHB aja). Mereka bodoh, kotor, kurangkerjaan, dan susah diatur.


Tetapi dari sudut pandang mapala sendiri berpendapat beda. “Mapala memang bodoh” karena jarang masuk kuliah dibandingkan mahasiswa pada umumnya, “kami memang kotor” tapi hanya sebagian dari mereka yang jarang mandi ^_^, “kami susah diatur dan itu memang benar”. Bukan sekedar susah diatur saja, mereka cuman pengen mengeluarkan pendapat kuk. Mereka berpenampilan agak berbeda dengan mahasiswa lain, memang biasanya jadi macan kampus tadi, mahasiswa lain pada takut sama mereka. Para dosen sangat benci yang namanya “mapala”, soalnya sering tidak masuk, tidak ikut mid semester, atau jarang ngumpulin tugas tepat waktu. 


Tapi yang anehnya apa?
Sebagian besar Mapala sangat menghormati orang tua mereka, walaupun mereka nakal, usil, dan seperti tak punya rasa takut pada siapa saja, tetapi mereka masih takut dengan orang tua mereka. Penjelasan diatas merupakan penjabaran kehidupan mapala dikampus, yang sering di cap negative oleh orang orang awam di kampus.


Tetapi lain halnya saat mereka masuk dalam sesi organisasi, mereka professional. Mereka juga mempunyai “struktur organisasi”, ”rancangan kerja”, ”pertanggungjawaban”, dan semua hal yang penulis tidak kenal sebelumnya, layaknya organisasi pada umumnya. Ketua, sekertaris, bendahara, dll. Mapala mempunyai loyalitas yang tinggi, kekeluargaan, sosial yang tinggi. Mereka sering terjun langsung dalam aksi aksi sosial (tetapi para “awam” biasanya tidak tahu).


Mereka tidak digaji layaknya polisi, tentara maupun pegawai pemerintah lainnya, Cuman kata loyalitas yang di pegang oleh seorang mapala, dan itu sudah lebih dari cukup bagi mereka.
Dan hal itulah yang menjadi kebanggaan seorang mapala.


Sedikit menyinggung mengenai sispala maupun freeland tadi. Boleh dikatakan mereka sama, prinsip dan tujuan mereka sama. Hanya saja sispala lebih ke ‘maen’ nya dari pada interaksi sama OPA (organisasi pecinta alam), freeland dengan basic pecinta alam yang asli dan biasanya berawal dari hoby naek gunungnya, sistem perekrutan anggota merekapun berbeda beda. Kalau di pandang dari segi prestasi mapala, sispala, maupun freeland lebih menonjol ke mapalanya. Walaupun tidak menutup kemungkinan sispala maupun freeland lebih berbobot dari mapala. Tetapi yang jelas kalau dilihat dari materi yang dimiliki per OPA, mapala lah yang memiliki lebih banyak materi. Dikarenakan status pendidikan dan masa keanggotaan yang lebih lama dari sispala maupun freeland.


Disini penulis bukan menjelek jelekan suatu organisasi maupun membanding bandingkannya, tetapi tak lain halnya cuma membahas suatu masalah dari pihak penulis. Dan seumpanya ada yang merasa tersinggung mohon dimaafkan.


Sepatah kata dari seorang “mapala pengecut” :

“Enyah saja para pemburu liar!!”
“makanlah pelurumu!!!!, lewat generasi setelahmu”
“biar kalian tahu apa itu punah”
“Enyah saja para pemilik pabrik!!!”
“payungkan uangmu diatas, agar tidak panas”
“biar kalian tahu bumi sudah lelah meneduhkanmu”
“dan untuk para generasi modern yang idealis!!!”
“empat acungan jempol!!!, kalian masih memberikan tempat istirahat”
“bagi hewan yang sudah punah itu,,,
“MUSEUM”

Mapala sering diartikan Mahasiswa Pecinta Alam, ataukah Mahasiswa Penikmat Alam?
Ataukah “Mahasiswa Paling Lama” ( mundur lulusnya ), atau kalau dosenku sering bilang “Mahasiswa Paling Langka”. Terserah mereka mau berpendapat apa mengenai mapala, yang penting penulis cuman ingin memperjelas yang namanya “Mapala” di mata penulis sendiri.

Dari “kamus pengalaman” penulis, dikatakan bahwa mapala merupakan suatu organisasi yang bertujuan melestarikan alam sekitar dan anggotanya adalah seorang mahasiswa. Tetapi ada juga yang bukan mahasiswa sich, kita sering sebut dengan nama “sispala” bedanya hanya terletak pada angggota nya yaitu seorang siswa sma atau sederajat. Selain itu ada juga istilah “freeland”, kalau yang ini bukan siswa atau mahasiswa tetapi sudah bekerja atau lulus kuliah,dan tidak terikat oleh aturan organisasi. Sebenarnya kalau dipandang dari sudut tujuan organisasi tersebut, mereka semua sama. Yang membedakan hanya pandangan pikiran yang di miliki masing masing anggota, dalam hal ini di titik beratkan pada masalah “umur” para anggotanya.

Berhubung penulis bukan sispala atau freeland, lebih baik kita membicarakan masalah mapala saja.
Berdasarkan survey yang penulis lakukan walaupun belum akurat 100%, orang awam memandang mapala merupakan kumpulan orang orang yang hobynya naek gunung. Ada yang bilang mapala merupakan “anak hutan” dikarenakan sering berbaur dengan yang namanya “hutan”. Memang betul, mapala sering bergaul dengan “hutan” (kalu lebih enak kita pakai kata “alam” saja) tetapi bukan berarti aktivitas mapala cuma di alam saja.


Mapala merupakan bhineka Tunggal Ika, mereka dari golongan berbeda beda. kaya, miskin, pintar, bodoh, pria, wanita, tampan, cantik, jelek, pas2 an (aku banget), anak konglomerat, pengusaha, pedagang, petani, semua ada. Kalau penulis bahas ndak selesai nanti, yang jelas dari Sabang sampai Merauke semua ada. Mereka semua keluarga, walau bukan dari Bapak atau Ibu sekandung, orang tua mereka adalah alam ini. Mapala memiliki ikatan yang kuat antar anggotanya, tua, muda saling menghormati. Mereka memiliki keanggotaan “seumur hidup” yang berarti bahwa selama dia masih hidup, maka dia masih menjadi anggota organisasinya tersebut. Kecuali mengundurkan diri atau keluar atas pertimbangan-pertimbangan tertentu.
Kesan mapala sekarang menurun, orang tua jaman sekarang menganggap bahwa mapala merupakan kumpulan orang orang malas, yang paling lama lulusnya atau sering disebut “macan kampus” (kayak lagunya PHB aja). Mereka bodoh, kotor, kurangkerjaan, dan susah diatur.


Tetapi dari sudut pandang mapala sendiri berpendapat beda. “Mapala memang bodoh” karena jarang masuk kuliah dibandingkan mahasiswa pada umumnya, “kami memang kotor” tapi hanya sebagian dari mereka yang jarang mandi ^_^, “kami susah diatur dan itu memang benar”. Bukan sekedar susah diatur saja, mereka cuman pengen mengeluarkan pendapat kuk. Mereka berpenampilan agak berbeda dengan mahasiswa lain, memang biasanya jadi macan kampus tadi, mahasiswa lain pada takut sama mereka. Para dosen sangat benci yang namanya “mapala”, soalnya sering tidak masuk, tidak ikut mid semester, atau jarang ngumpulin tugas tepat waktu. 


Tapi yang anehnya apa?
Sebagian besar Mapala sangat menghormati orang tua mereka, walaupun mereka nakal, usil, dan seperti tak punya rasa takut pada siapa saja, tetapi mereka masih takut dengan orang tua mereka. Penjelasan diatas merupakan penjabaran kehidupan mapala dikampus, yang sering di cap negative oleh orang orang awam di kampus.


Tetapi lain halnya saat mereka masuk dalam sesi organisasi, mereka professional. Mereka juga mempunyai “struktur organisasi”, ”rancangan kerja”, ”pertanggungjawaban”, dan semua hal yang penulis tidak kenal sebelumnya, layaknya organisasi pada umumnya. Ketua, sekertaris, bendahara, dll. Mapala mempunyai loyalitas yang tinggi, kekeluargaan, sosial yang tinggi. Mereka sering terjun langsung dalam aksi aksi sosial (tetapi para “awam” biasanya tidak tahu).


Mereka tidak digaji layaknya polisi, tentara maupun pegawai pemerintah lainnya, Cuman kata loyalitas yang di pegang oleh seorang mapala, dan itu sudah lebih dari cukup bagi mereka.
Dan hal itulah yang menjadi kebanggaan seorang mapala.


Sedikit menyinggung mengenai sispala maupun freeland tadi. Boleh dikatakan mereka sama, prinsip dan tujuan mereka sama. Hanya saja sispala lebih ke ‘maen’ nya dari pada interaksi sama OPA (organisasi pecinta alam), freeland dengan basic pecinta alam yang asli dan biasanya berawal dari hoby naek gunungnya, sistem perekrutan anggota merekapun berbeda beda. Kalau di pandang dari segi prestasi mapala, sispala, maupun freeland lebih menonjol ke mapalanya. Walaupun tidak menutup kemungkinan sispala maupun freeland lebih berbobot dari mapala. Tetapi yang jelas kalau dilihat dari materi yang dimiliki per OPA, mapala lah yang memiliki lebih banyak materi. Dikarenakan status pendidikan dan masa keanggotaan yang lebih lama dari sispala maupun freeland.


Disini penulis bukan menjelek jelekan suatu organisasi maupun membanding bandingkannya, tetapi tak lain halnya cuma membahas suatu masalah dari pihak penulis. Dan seumpanya ada yang merasa tersinggung mohon dimaafkan.


Sepatah kata dari seorang “mapala pengecut” :

“Enyah saja para pemburu liar!!”
“makanlah pelurumu!!!!, lewat generasi setelahmu”
“biar kalian tahu apa itu punah”
“Enyah saja para pemilik pabrik!!!”
“payungkan uangmu diatas, agar tidak panas”
“biar kalian tahu bumi sudah lelah meneduhkanmu”
“dan untuk para generasi modern yang idealis!!!”
“empat acungan jempol!!!, kalian masih memberikan tempat istirahat”
“bagi hewan yang sudah punah itu,,,
“MUSEUM”